Sabtu, 10 Januari 2015

Cerpen RIFY

                                                                                     BACA AJA YAH:)


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu…
aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
 … - sapardi djoko damono

10 juli 2001,jakarta

Teriakan wanita itu tak seperti macan yang ingin menerjang mangsanya,bukan!ini demi menyelamatkan nyawa yang ada didalam perut yang dia jaga selama 9 bulan itu.Hiruk pikuk manusia diluar cemas,terlihat wanita dan pria paruh baya mulutnya berkomat kamit menyebutkan berbagai untaian  doa.
Uekkk..uekkk
“Allhamdulillah”
Tiba-tiba disaat yang bersamaan,deru motor dan tangisan bayi menyatu.Suara bising motor vespa keluaran terbaru itu membuat mereka mengalihkan pandangannya.Pria paruh baya tadi menyusul seseorang pemilik vespa itu.Dia sangat tenang.Tak ada lalu wajah kecemasan yang dibawa pria ini.sungguh,gila!
“anakmu sudah lahir” tegas pria paruh baya tadi
“dimana?” Tanyanya santai
“Astaghfirullah”
Pria paruh baya tadi menggelengkan kepala dengan heran.

9 juli 2000

Ify pov

“sudah saatnya kamu menikah,kami akan menjodohkan kalian,semua akan kami siapkan”
 Suara halus namun sangat kasar untuk didengarnya mampu menyentakkan hatiku.Aku diam seribu bahasa mendengar perkataan wanita tua itu.Apakah memang takdirku seperti ini?jika pun nanti aku membantah tak ada keberanian.Dia lah perempuan yang selama ini menjaga kakak, aku dan adik adikku.Dia yang selalu merawat kami,dia yang membayarkan segala kehidupan kami.Sejak kecil,hidupku sudah di hinggapi kesedihan kesedihan yang tak pantas di usia seperti ku.Ibu dan ayah ku sudah meninggalkan hidup kami saat kakak ku berumur 15 tahun,aku 13 tahun,adikku yg ketiga 10 dan yang keempat 8 tahun.Semua terjadi sudah takdirnya.Ayah dan ibuku yang sudah mempunyai penyakit yang lama dihidapnya tak akan bisa mengubah semuanya.Alhasil,kami harus hidup dengan adik  ayah yang mempunyai sebuah toko.

Author
Orgen tunggal yang meriahkan acara pernikahan ini tak akan membuat pasangan yang duduk disebuah kursi pelaminan itu untuk tersenyum.Wajah masamlah yang hanya dihiasi pasangan ini.
“selamat yah pyyy ciee,cepet2 punya anak”
“semoga tentram yah py yo”
Segala macam bentuk ucapan yang keluar dari mulut-mulut temannya.Tawa mereka tak akan pernah bisa membuatnya bahagia,karena ini terpaksa.
Pagi berganti malam,nampaknya matahari sudah lelah ingin menyemangatkannya.Dia pergi,tetes demi tetes bulir-bulir bening di mata itu keluar,detik berganti menit hingga ke jam hingga ke hari.
Ify berjanji akan belajar mencintainya,bismillah.Tekad nya dalam hati
“besok kita akan pergi ke kampung halamanku” ucapnya saat Ify sedang melipat baju dia dan suaminya ---Rio--- agak sedikit kaget memang,namun apalah daya.Seorang istri harus menurut perkataan suami,dengan lagi lagi,terpaksa.Disini saja dia masih  belum sepenuhnya mengikhlaskan,apalagi dikampung orang?Ify menoleh sesaat Rio mengatakan itu.
“aku akan bekerja disana” lanjutnya
“yah,kapan kita kesana?”
“jika bisa secepatnya”
“besok kita akan berangkat”
“baiklah”
Ify dan Rio bukanlah seorang dari keturunan bangsawan dan kaya raya.Mereka hanya keturunan biasa.Mereka hanya berhenti dijenjang SMA karena ulah orang tua nya.Ify yang sempat melanjuti kuliahnya hanya pasrah,karena takdir.Aku tau,disana kami akan hidup pas-pas-an,batinnya.

\Manado,2001

Setahun kemudian………

Tanggal 10 juli 2001 lah Ify telah melahirkan seorang bayi perempuan bernama Raisha Stevadit yang kerap dipanggil Acha.Dia manis,rupanya seperti ini menjadi ibu,dia membatin tak percaya.Sepanjang hari Ify lewati cerita nya ini.Rio yang menjadi tukang kebun unutk memenuhi kebutuhan sehari-harinya dan Ify yang setiap hari menjadi ibu rumah tangga dan mengurusi Acha.Mereka tinggal disebuah dusun,jauh dari kota.Lauk-pauk seadanya yang Ify masak saat Rio pulang bercocok tanam.Lama  kelamaan,tak bisa dipungkiri jika Ify mencintai Rio.Yah,mencintainya.Cinta jika di jalanin secara sederhana akan terasa indah bukan?

Manado,2005

Kini Acha sudah berumur 4 tahun,anak itu tumbuh layaknya balita seperti biasa,manis sekali.Ditahun 2005 ini jugalah Ify melahirkan buah hati kedua bernama Ashilla Stevadit yang kerap dipanggil Illa dan baru berumur beberapa bulan.
“mas,temenin aku pergi suntik bulan (?) yah”  ajak Ify sambil menimang-nimang Illa yang sedang tertidur
Rio yang sedang menghisap sebatang rokok menghela nafas ringan.Menjengkelkan,batinnya.
“ya sudah,ayo”
Ify pun segera keluar dari rumah panggung itu sambil menggendong Illa dan memanggil Acha.Rio yang sudah duduk santai dimotor keluaran tahun 98 itu pun memulai perjalanan menuju praktek dokter yang berada di luar dusun tempat tinggalnya.Namun,nasib sial menghampirinya hari itu.Tempat itu belum buka karena mereka terlalu siang mendatanginya.Ckck,decak Rio.
Mereka pun berbalik lagi ke rumah karna yang didatang tak menampakkan batang hidungnya.Ify menidurkan Illa disebuah ayunan yang hanya dikaitkan diatas langit-langit rumah panggung itu dengan sebuah kain.
30 menit kemudian…..
“aku harus pergi cek,kan ini  benar-benar jadwlnya” batin Ify
“mas,aku pergi sama acha saja yah.kamu jagain illa” ucap If
“ck,mau pergi pakai apa?aku malas mengantarmu.” Sahut Rio dengan nada sedikit melengking.Ify benar-benar takut kalo Rio sudah seperti ini
“aku berjalan kaki,ayo cha”
Rio acuh tak acuh mendengar perkatakaan Ify,terserahlah,batinnya.Ify pun berjalan menyusuri jalan-jalan becek yang tadi malam di basahi hujan dengan menggenggam tangan Acha.Dia hanya diam sambari melangkah jalan-jalan kecil itu.Tempatnya tidak terlalu jauh,saat sudah keluar dari jalan yang sempit dikebun Ify pasti akan menemukan jalan raya, disitulah tepat berada praktek dokter umum.Sepanjang perjalanan Ify terus memikirkan segala sesuatu yang berada di kampung halamannya dulu.Pikirannya berkecamuk,jujur dia belum sepenuhnya melupakan jakarta tempat kelahirannya itu.Disana tempatnya bercanda tawa dengan sahabat dan mantan.Mantan?hampir saja lupa.Ify pernah berpacaran hanya kurang lebih 5 bulan,untung saja ketika Ify dijodohkan sudah berakhir duluan kisahnya karena Gabriel –mantannya- berselingkuh,sungguh miris.Tak sadar langkah-langkah kecilnya sudah sampai ditempat yang dituju.Ify pun masuk keruangan dan melakukan keperluannya.
--------------------
“DARI MANA SAJA KAU HAA?!!!ILLA MENANGIS-NANGIS SEDARI TADI DAN KAU ENAK-ENAKKAN BERJALAN SANA SINI?!!”Bentak Rio saat aku sudah kembali kerumah, sembari melangkah kecil ke belakang dan mengambil kayu berukuran sedang yang biasanya Ify gunakan untuk memasak.
“mm..aaaff ma..ss” ucap Ify gemeteran
Ify takut.Ify takut Rio kalut dan menghabisi nyawanya hari ini juga.Itu tidak seberapa,yang Ify pikirkan hanya Acha dan Illa.Ify pun melirik Acha dan menyuruhnya naik ke atas rumah panggung itu untuk menyusul adikknya.Dia memang agak sedikit terlambat,bukan apa-apa.Disana memang ramai sekali dikunjungi pemuda-pemudi-nenek dsb untuk check-up ditambah lagi Ify harus pulang balik berjalan kaki.Sungguh,berjalan-jalan sedikitpun tidak ada.
“ahh kau!banyak alasan,pasti kau berjalan dengan pemuda lain kan?cuihhh “
Deggg jantung Ify melemah.Tega Rio mengatakn seperti itu?tega Rio meludahi istri sendiri hanya karena hal sepele?Ify menegakkan kepalanya yang sedari tadi  ditundukkkan dengan wajah yang bercampur aduk.
“mas,jangan berpikiran seperti itu!aku tak melakukan apa-apa!”
“berani kau melawan haa?”
Rio memajukan langkahnya mendekati ify dan memukul Ify menggunakan kayu yang ia pegang tadi.
“aww,mas sakit hiks…hiks…hiks” Ify memegang bibirnya yang terkena ujung kayu barusan.
Sementara Acha,ia memang tak tau apa-apa.Acha masih bocah polos,namun kejadian itu mampu membuat Acha meneteskan air mata.Dia terus memegang adiknya yang ingin keluar dari pintu yang ditutup dengan kayu dibawahnya.
“ibuuuu hiks..”
Siapa yang rela melihat ibunya seperti itu?siapa yang tega?Acha tak bisa melakukan apa-apa.Namun,Acha mengerti bagaimana sakitnya diperlakukan seperti itu.Beberapa menit kemudian pertengkaran itu selesai dan menyebabkan tubuh Ify lebam dan luka,Ify pun masuk ke dalam rumah langsung memeluk Acha dan Illa.Sementara Rio,entah pergi kemana.
“kenapa bibir ibu berdarah-darah?” Tanya acha khawatir
Ify memegang bibirnya dan melihat tangannya sebelah kiri lebam.sakit,sakit sekali.

Manado,2008

Ify p.o.v

Aku takut,takut kejadian itu kembali lagi.Cukup bagiku menjalankan segala kisah ini,aku malu dengan novel yang sering aku baca yang ternyata banyak kisah sad ending dan berlaku untuk ku.Namun,kurasa ini belum endingnya.Ini hanya sebuah prolog.ehmm benarkah?
8 tahun telah aku bertahan untuknya,sabar.Lagi-lagi sabar yang hanya ku ucapkan dan ku lakukan.Sumpah demi apapun!Dia tak pernah sekalipun memanggil nama ku,--Ify--.aku bagai asap hitam di rumah yang terbakar,menyusahkan orang,katanya.lagi-lagi aku bertahan;terpaku hanya karena sebuah cinta;sayang.Berpisah?mungkin kamu harus memainkan drama ini dulu agar dapat merasakannya.

Author pov

“buk,Acha berangkat dulu yah” lamunan Ify pecah mendengar suara Acha ---anaknya---
“eh,iya.belajar yang bener yah”
“ibu,ngomongnya itu terus” ucap Acha mengerucutkan bibirnya sambil menyalami punggung tangan ibunya
“yaudah,cepat berangkat”
Acha sudah menjadi gadis cilik yang sangat cantik dan manis.Dia sekarang duduk disekolah dasar kelas 4 SD.Dia pun selalu mendapatkan prestasi di bidang akademik dan membanggakan ibu;tanpa ayahnya.Semenjak Acha melanjutkan sekolahnya mereka memang pindah ke kota dan bertempat tinggal dirumah adik Rio yang masih layak di bilang tempat berteduh.
Malam itu Ify tak bisa tidur,diliriknya jam dinding diatas televisi  yang menunjukkan pukul 01.00 pagi.Kemana Rio?sudah berapa kali Rio seperti ini,batin Ify berkali-kali.Memang,semenjak pindah ke kota,Rio selalu berjudi di pasar yang memang tidak jauh dari tempat tinggalnya karena pengaruh teman-temannya.
“aku harus menyusulnya” Ify bangun dan bersiap-siap memakai jaket tebalnya.Diam-diam,putri bungsunya---Illa--- mendengar gerak-gerik itu dan langsung terbangun.
“ibuuu” tanyanya dengan mata yang masih terpejam menahan kantuknya
“ibu mau menyusul ayah”Ify refleks terkejut dan dengan santai menjawab karena memang sudah tau apa yang ingin dikatakan anak ini
“ikut”
“hmm,yaudah.cepet pakai jaketmu.diam-diam.kita harus meninggalkan kakak” ucap Ify pelan-pelan sambil melirik Acha yang lagi pulas tertidur
----------------
‘hey,sudah berapa kau minum?hahaha” ucap Rio setengah teriak sambil sempoyongan duduk diantara perempuan-perempuan yang sepertinya tidak mempunyai harga diri---
“haa?kau bertanya apa?” Tanya pemuda satu lagi---Alvin--- lebih buruk dari yang bertanya tadi sambil bergelayut dengan para wanita.
“ahh kau ini!terlalu banyak minum alvin”entah mengapa Rio secara tak sadar tiba-tiba memuntahkan bogem mentahnya dipipi Alvin,dia kalap!Alvin yang tak terima diperlakukan seperti itu berdiri dengan masih setengah sadar dan mengepalkan tangan meluncurkan hantaman seperti yang dilakukan Rio tadi.
“hey!apa apaan kalian!sudah-sudah,pergi sana!” Pemilik diskotik tadi datang dengan perasaan murka dan langsung mencaci maki Rio dan Alvin.
Mereka yang kini telah dipisahkan langsung diseret satpam dengan terpaksa keluar karena sudah menganggu kesenangan berhura-hura mereka di dalam ruangan itu.Rio yang kini menatap sinis Alvin dibalas juga dengan tatapan elang Alvin.

Ify pov

Jalanan ini gelap,sepi dan tak ada sama sekali kehidupan ditempat yang ku lalui,perasaan bergemuruh menghantui ku,ditambah lagi aku membawa si bungsu yang sedari tadi diam kedinginan sambil memeluk ku dari belakang karena aku hanya memakai kendaraan beroda dua dan sisulung acha sedang tertidur sendirian disana.Jalan yang menurut ku tempat-tempat orang menghabiskan uangnya sudah kucari,namun aku yang terlalu awam dengan kota ini sehingga tak sama sekali mengetahui tempat yang paling jarang ditemui.
Aku harus bagaimana?
Menyerah dan pulang.
Aku berbalik arah dan membawa hasil sia-sia.Berhentilah mengkhawatirkan ku,suamiku.Terlalu sulit dan terlalu rumit.Damn!
TITTTT TITTT TITTTTTTTT
BRAK BRUK CYITTTTTTTTT (?)
Kuserahkan dan ku Kembalikan semuanya,Tuhan……

Author.

Jakarta 2015

Sivia meneteskan butiran bening yang keluar dari matanya.Matanya melirik wajah yang berambut keputih-putihan itu.Sivia tak ingin membayangkan jika kisahnya seperti itu.Hihhh,gidiknya dengan ngeri.Malam itu,kakeknya seperti biasa membacakan cerita-cerita yang selalu menarik perhatiannya.Sivia berpikir sejenak,kenapa ceritanya sama seperti dirinya?
“kek,kok ceritanya agak sama yah kayak kehidupan Sivia?hehehe” Tanya Sivia sambil mengusap air mata yang keluar tadi
“hahaha gak lah,kamu yah kamu.Mereka yah mereka,jangan kamu sama-sama kan seperti mereka” jawab kakek sambil terkekeh
“oh yah,akhirnya apa kek?Rio sama Acha meninggal gak?” Tanya Sivia penasaran
Krek..
Sivia dan Kakek menoleh kebelakang tepatnya menghadap pintu,mereka melihat wanita paruh bayah tersenyum memandangi Sivia dan Kakek.
“kek,udah malem.Tidur gih,Sivia juga” lembut wanita itu yang biasanya dipanggil Sivia nenek.
“yah,gak jadi deh,besok aja yah via kakek lanjutin”
“ehm….iya deh kek,lagian Via juga udah ngantuk hehe” ucap Sivia sambil menguap
“ya sudah,selamat tidur” kakek pun menyelimutkan bocah 10 tahun itu dan langsung keluar kamar.
“kamu cerita apa ke Sivia?” Tanya nenek
“sudah seharusnya dia tahu,Shilla”
“yah,mungkin lah,Rio”
Mereka berdua pun berjalan beri-iringan sambil tertawa bersama.
 END.

GATAU AHH HARUS KAYAK MANA LAGI ENDINGNYA:”)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar