Jumat, 16 Januari 2015

Pemancar Cahaya Cinta

Pemancar Cahaya Cinta

Mengapa hanya memandang mu aku bahagia?Apalagi bisa mendengar sapa manis dari mulutmu yang menarik itu.Tapi,itu hanya ungkapan “andai”.Tuhan tak adil,membiarkan ku sendiri menahan luka se sakit ini,terpuruk dalam sebuah perasaan.

Hari ini aku memandangmu untuk yang kesekian kalinya,pemancar keindahan.Perih memang.Namun,hanya itu yang bisa ku lakukan.Diam-diam,wajahmu memancarkan cahaya putih yang sangat sulit untuk dilihat,apalagi digapai.Ku rentangkan lagi kedua tangan ku,tapi…..cahaya putih itu semakin membunuh penglihatan ku.Hingga kau jauh,jauh sekali.

Aku baru sadar,ternyata cahaya putih itu dia,dia yang beruntung mendapatkan cinta darimu.Sekarang,setiap hari dan setiap detik aku menangisimu.Entah sudah berapa butir air yang mengalir.

Besok,kau akan menikahinya.Kenapa harus aku yang kau undang untuk menghadiri acara yang sangat menyesakkan itu bagiku?

Hari ini aku mengunjungi pesta yang ku yakin banyak sekali para manusia yang sangat bahagia melihat mu bersanding diatas kursi elegan itu.Hari ini kau akan memulai hidup baru,dengannya.Bukan denganku,yang hanya bisa memulai hidup baru tanpa dirimu lagi.

Tak bisa ku pungkiri,bahwa aku masih benar-benar mencintaimu.Sudah 5 tahun berlalu,aku lihat kau sudah mempunyai sepasang titipan Tuhan untuk kau jaga,mereka manis.Seperti dirimu.

Melupakanmu sangat sulit bagiku,hingga saat benar-benar aku sudah memiliki pendamping hidupku aku masih belum bisa melupakanmu,pemancar keindahan.

Aku sadar,ini benar-benar bodoh.Kenapa harus aku yang jatuh kedalam lubang yang sangat dalam,sehingga berharap ada tangan yang ku miliki untuk menolongku.Tetapi,bukan kamu.
Aku sadar,ini benar-benar sampah.Perasaan ini benar-benar sampah.Busuk,namun aku senang menyimpannya.Dan kuharap,ada tempat sampah yang mampu menampung semua perasaan ini.Dan ternyata dia.

Sekarang,Aku sadar,dia lah pemancar cahaya cinta,bukan dia sang pemancar keindahan.


Kamulah takdirku……….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar