Pemancar Cahaya Cinta
Mengapa hanya memandang mu aku bahagia?Apalagi bisa
mendengar sapa manis dari mulutmu yang menarik itu.Tapi,itu hanya ungkapan “andai”.Tuhan
tak adil,membiarkan ku sendiri menahan luka se sakit ini,terpuruk dalam sebuah perasaan.
Hari ini aku memandangmu untuk yang kesekian kalinya,pemancar keindahan.Perih
memang.Namun,hanya itu yang bisa ku lakukan.Diam-diam,wajahmu memancarkan
cahaya putih yang sangat sulit untuk dilihat,apalagi digapai.Ku rentangkan lagi
kedua tangan ku,tapi…..cahaya putih itu semakin membunuh penglihatan ku.Hingga
kau jauh,jauh sekali.
Aku baru sadar,ternyata cahaya putih itu dia,dia yang
beruntung mendapatkan cinta darimu.Sekarang,setiap hari dan setiap detik aku
menangisimu.Entah sudah berapa butir air yang mengalir.
Besok,kau akan menikahinya.Kenapa harus aku yang kau undang
untuk menghadiri acara yang sangat menyesakkan itu bagiku?
Hari ini aku mengunjungi pesta yang ku yakin banyak sekali para
manusia yang sangat bahagia melihat mu bersanding diatas kursi elegan itu.Hari
ini kau akan memulai hidup baru,dengannya.Bukan denganku,yang hanya bisa
memulai hidup baru tanpa dirimu lagi.
Tak bisa ku pungkiri,bahwa aku masih benar-benar mencintaimu.Sudah
5 tahun berlalu,aku lihat kau sudah mempunyai sepasang titipan Tuhan untuk kau
jaga,mereka manis.Seperti dirimu.
Melupakanmu sangat sulit bagiku,hingga saat benar-benar aku
sudah memiliki pendamping hidupku aku masih belum bisa melupakanmu,pemancar keindahan.
Aku sadar,ini benar-benar bodoh.Kenapa harus aku yang jatuh
kedalam lubang yang sangat dalam,sehingga berharap ada tangan yang ku miliki
untuk menolongku.Tetapi,bukan kamu.
Aku sadar,ini benar-benar sampah.Perasaan ini benar-benar
sampah.Busuk,namun aku senang menyimpannya.Dan kuharap,ada tempat sampah yang
mampu menampung semua perasaan ini.Dan ternyata dia.
Sekarang,Aku sadar,dia lah pemancar cahaya cinta,bukan
dia sang pemancar keindahan.
Kamulah takdirku……….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar